09

Merdeka.com – Kegiatan Top Digital Awards 2019 berlangsung meriah dengan 150 peserta finalis di The Sultan Hotel Jakarta, akhir pekan lalu. Dihadiri sekitar 700 peserta termasuk pimpinan kementerian dan lembaga, gubernur, walikota, bupati, CEO, dan IT manager hadir dalam acara ini untuk menerima penghargaan.

Top Digital Awards 2019 diselenggarakan bekerja sama dengan sejumlah asosiasi di bidang teknologi-informatika dan konsultan TI independen. Tema yang diangkat adalah Digital Tranformation for National Economic Competitiveness. Artinya, dengan terus menerapkan transformasi digital dan optimalisasi teknologi informatika, harapannya dapat meningkatkan daya saing (competitiveness) ekonomi nasional.

M Lutfi Handayani MM MBA, Ketua Penyelenggara Top Digital Awards 2019 sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah It Works dan portal berita itworks.id menjelaskan, kegiatan ini bukan sekadar ajang penghargaan semata, tapi ada aspek pembelajarannya bagi peserta.

“Saat mengikuti tahapan wawancara penjurian, yang mana peserta melakukan presentasi dan tanya jawab di hadapan dewan juri Top Digital Awards 2019, ada sesi Nilai Tambah. Dalam sesi ini, dewan juri memberikan masukan dan saran serta rekomendasi kepada para peserta tentang pengembangan solusi TI dan transformasi digital yang perlu dilakukan ke depan,” ujar M Lutfi Handayani dalam keterangan pers, kemarin.

Menurutnya, saran dan masukan yang diberikan meliputi tata kelola TI, infrastruktur TI untuk mendukung teknologi digital, dan implementasi TI dan teknologi digital dalam bentuk solusi atau aplikasi,” jelasnya.

Selama proses penilaian dan penjurian, dewan juri mengidentifikasi beberapa temuan penting dan merumuskan solusi strategisnya. Ini sebagai bagian dari upaya untuk membangun bangsa menuju Indonesia Maju.

Berikut ini rekomendasi Top Digital kepada pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan yang disampaikan oleh Prof D Ing Ir Kalamullah Ramli, M.Eng, Ketua Dewan Juri Top Digital Awards 2019:

1. IT Security
IT Security, masih belum menjadi prioritas sebagian peserta. Padahal serangan terhadap keamanan sistem IT harus diwaspadai. Aktivitas operasional jangan sampai terganggu atau bahkan berhenti, hanya karena sistem keamanan IT yang masih lemah.

2. Data Center
Sebagian Peserta masih fokus pada pengembangan aplikasi dan hanya menyediakan server room. Belum semuanya didukung data center. Padahal di era digital ini kebutuhan data center mutlak diperlukan. Apalagi jika sudah masuk ke sistem industri 4.0, tentu big data dan data analytic memerlukan data center yang andal.

3. Sinkronisasi dan Integrasi
Pentingnya singkronisasi dan integrasi aplikasi yang digunakan oleh pemerintahan pusat (kementerian dan lembaga), dengan aplikasi yang digunakan oleh dinas-dinas di pemerintahan daerah. Kebijakan “Satu Data”, memang sudah tepat, tapi implementasinya masih terkendala banyak hal. Perlu ada kebijakan yang “memaksa” berjalannya kebijakan “Satu Data”.

Begitu juga dengan integrasi IT di perusahaan induk dengan anak perusahaan di perusahaan holding, belum semuanya terintegrasi dengan baik, walaupun proses integrasi terus dilakukan.

4. Sinergi dan Kolaborasi
Masing-masing instansi cenderung mengembangkan sendiri aplikasi dan solusi digitalnya. Oleh karena itu, sering terjadi permasalahan ketika dilakukan integrasi dari banyak solusi. Sebenarnya, keunggulan solusi digital di salah satu instansi dapat diduplikasi di instansi lainnya, sehingga meminimalkan biaya investasi pengembangan solusi digitalnya.

5. Rating Kepuasan Pengguna Solusi
Sebagian peserta, masih belum memberikan fasilitas penilaian atas solusi/aplikasi yang digunakan. Jika masing-masing pengguna solusi/layanan, selalu diberikan opsi pemberian rating nilai atas sebuah layanan, seperti kepuasan bintang 5 atau 1, maka unit terkait akan terpacu untuk terus meningkatkan layanannya. Jadi penggunaan aplikasi atau solusi Digital akan menigkatkan budaya layanan yang lebih baik.

Kategori Penghargaan Star 5-1

Top Digital Awards merupakan penghargaan bidang TI telco atau teknologi digital yang terbesar di Indonesia. Kegiatan penilaian melibatkan lebih dari 500 perusahaan dan instansi pemerintahan. Kemudian berdasarkan rekomendasi para pakar, konsultan, dan asosiasi TI telco ditetapkan kepada 200 finalis/kandidat pemenang. Kemudian para finalis diminta untuk mengisi kuesioner tentang keberhasilan implementasi dan pemanfaatan teknologi digitalnya, serta diundang untuk mengikuti wawancara penjurian.

Dari 200 finalis, sebanyak 129 finalis yang mengikuti tahapan penilaian secara lengkap, termasuk mengikuti wawancara penjurian, dan 21 instansi yang menjadi pemenang berdasar kuesioner rekomendasi dan market research. Sehingga, total kegiatan ini dihadiri sekitar 150 finalis, termasuk kementerian, lembaga, dan perusahaan.

Salah satu hal yang membedakan dalam penyelenggaraan tahun ini adalah adanya level bintang dari ketegori penghargaan yang diberikan. Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan pemenang masuk di level star (bintang) 5-1. Pertama apakah Tata kelola TI (kebijakan, organisasi, penerapan sistem, dan prosedur) sudah baik dan dijalankan secara konsisten dengan perbaikan berkesinambungan.

Kedua, apakah implementasi teknologi digitalnya sudah berhasil dan penggunaannya terpadu di semua divisi/unit kerja, serta berdampak terhadap kinerja, daya saing, dan layanan pelanggan/masyarakat. Ketiga, apakah infrastruktur pendukung teknologi digital tersedia sesuai dengan kebutuhan saat ini dan dapat dikembangkan terus untuk kebutuhan di masa mendatang.

Dan terakhir, sejauh mana implementasi TI/teknologi digitalnya layak direkomendasikan kepada perusahaan atau instansi lain.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.