08

SurabayaInside.com, Surabaya – Penyakit Tuberculosis (TB) cukup banyak ditemui di Indonesia, dengan kasus 1,2 juta jiwa per tahun meninggal akibat penyakit ini. Menurut data yang dirilis WHO, Indonesia menempati peringkat 3 sebagai negara dengan penderita TB terbanyak.

Inten Firdhausi Wardhani, Rofi Mega Rizki Samudra, dan Katherine, tiga mahasiswa Teknik Biomedis Universitas Airlangga, mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) berjudul “Prospek 3D Printing dalam Pembuatan Scaffold Tulang sebagai Penghantar Obat Spinal Tuberculosis”.

Inten selaku ketua tim mengatakan, di era Revolusi Industri 4.0 ini ada peluang untuk membuat inovasi mengatasi masalah TB tulang. Maka, timnya memanfaatkan teknologi 3D printing (salah satu dari lima teknologi utama penopang industri 4.0) sebagai alat untuk mencetak perancah tulang (bone scaffold) untuk tulang belakang yang rusak karena TB.

“Proposal penelitian ini mendapatkan dana hibah dari Kemenristekdikti melalui program PKM tahun 2018. Berbekal dana tersebut kami melakukan pengembangan ide proposal di Laboratorium Fisika Material, Fakultas Sains dan Teknologi, Unair,” jelasnya.

Selanjutnya, pengembangan yang dilakukan berupa bone scaffold hasil 3D printing yang diinjeksikan pasta IBS di dalamnya. Bone scaffold, kata Inten, merupakan teknologi yang banyak dikembangkan di ranah rekayasa jaringan sebagai ‘rumah’ untuk tumbuhnya jaringan tulang baru.

“Dengan menggunakan teknologi 3D printing, maka bone scaffold dapat didesain sesuai bentuk kerusakannya sehingga dapat bermanfaat sebagai penunjang sementara jaringan tulang yang rusak akibat bakteri TB,” paparnya.

Bahan yang digunakan juga terbukti aman dan akan terdegradasi oleh cairan tubuh. Pasta IBS sendiri berperan sebagai pengisi sekaligus antibiotik untuk spinal tuberculosis.

“Keduanya menjadi kombinasi sangat efektif untuk mengatasi spinal tuberculosis dengan menggantikan struktur tulang belakang yang rusak akibat bakteri, sekaligus melakukan penghantaran obat secara lokal,” jelas Inten.

Inten mengharapkan teknologi yang diciptakan bersama tim dapat menjadi terobosan baru yang lebih efektif untuk mengatasi spinal tuberculosis.

“Sebagai tambahan, Scaffold dari 3D printing juga terbukti sebagai metode efektif, efisien, dan murah jika dibandingkan dengan metode pembuatan scaffold tulang lainnya,” pungkasnya. (Lin)

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.